Kebahagiaan Diperoleh Dari Memberi

Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik bergaun mahal yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.

Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya, "Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya."

Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: "OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.

Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum.

Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur. Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi."

Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Telepon Ke Rumah Tuhan

Bayangkan bila pada saat kita berdoa dan mendengar ini:
"Terima kasih, Anda telah menghubungi Rumah Tuhan ".
Pilihlah salah satu:
  • Tekan 1 untuk 'meminta'.
  • Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
  • Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
  • Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."
Atau, bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:
"Jika Anda mau bicara dengan Malaikat, :
  • tekan 1. Dengan Malaikat penjaga neraka,
  • tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
  • tekan 3. Jika Anda ingin mendengar renungan saat Anda menunggu,
  • tekan 4. "Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba disini!!"
Atau bisa juga Anda mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini, Silakan mencoba kembali esok hari."
"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Puji Tuhan, bahwa Tuhan mengasihi kita, Anda dapat menelponNya setiap saat!!! Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja, dimana saja entah itu di rumah, di kantor, di perjalanan, dalam kesusahan, dalam kegembiraan, dalam kebimbangan dan DIA pasti mendengar Anda. Karena bila kita memanggil Tuhan, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.Tuhan menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Sudahkah Anda menghubungi Tuhan hari ini ??

Kisah Sebuah Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu?" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan : Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.
Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Aku Bertanya Kepada Tuhan

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya...
Lalu Dia menunjukan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliku siapapun untuk berbagi.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik...
Lalu Dia menunjukan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua...
Lalu Dia menunjukan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar...
Lalu Dia menunjukan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja di usir dari rumahnya yang kecil sesak... dan terpaksa tinggal dijalanan.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja...
Lalu Dia menunjukan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun karena tidak pernah memiliki kesempatan untuk belajar membaca.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal...
Lalu Dia menunjukan seorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar...
Lalu Dia menunjukan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.
Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku...
Dia lalu menunjukan AlkitabNya...Dia menunjukan Anaknya,yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari.
Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku...
Dan itu sudah cukup bagiku

Ruwet Tapi Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; "Allah, apa yang Engkau lakukan?"
Ia menjawab: "Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah,"Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"
Kemudian Allah menjawab,"Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini... Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."

Bunga Berduri Yang Indah

Sandra masuk ke dalam toko bunga dengan langkah berat. Ia sedang mengalami hal berat dalam kehidupannya. Ketika ia sedang hamil empat bulan pada kehamilannya yang kedua, sebuah kecelakaan mobil merengut nyawa janinnya.

Pada minggu "Thanksgiving" ini, ia mungkin akan melahirkan seorang putra jika kecelakaan itu tidak terjadi. Ia sangat sedih, benar-benar terpukul atas kejadian itu. Tetapi sepertinya, kejadian itu belum cukup, perusahaan di mana tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk bekerja di bagian cabang. Kemudian, adik perempuannya, yang ketika masa liburan tiba selalu mengunjunginya, menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung pada liburan kali ini.

Kemudian teman Sandra menasehati Sandra dengan mengatakan bahwa segala kedukaan yang ia alami adalah jalan Tuhan untuk mendewasakannya sehingga ia dapat bersikap lebih tenggang rasa terhadap penderitaan orang lain. "Ia tidak tahu apa yang aku rasakan," pikir Sandra dengan lirih.

Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa? pikirnya. Untuk supir truk yang ceroboh, yang menyerempet mobilnya dengan sangat keras? Untuk kantong udara penyelamat mobil yang menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup bayinya?

"Selamat siang, bisa saya bantu?" secara tiba-tiba ia berhenti dari lamunannya.

"Aku... aku membutuhkan persiapan untuk thanksgiving," jawab Sandra dengan gagap.

"Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah, tetapi sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi yang berbeda seperti pilihan pelanggan di sini, yang kusebut sebagai 'Thanksgiving istimewa?', " tanya penjaga toko.

"Aku yakin bunga-bunga itu menceritakan sesuatu dalam kehidupanmu," lanjutnya.

"Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa menyampaikan rasa terima kasihmu pada hari Thanksgiving ini?"

"Tidak juga!" celetuk Sandra. "Dalam lima bulan terakhir ini, semuanya yang bisa menjadi buruk benar-benar menjadi buruk."

Sandra menyesali ucapannya tadi, dan sangat terkejut ketika penjaga toko itu berkata, "Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving ini."

Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko menyalami seorang pelanggan yang baru saja masuk. "Hai, Barbara... tunggu sebentar yah, aku ambilkan pesananmu." Penjaga toko itu masuk ke dalam, menuju ruang kerjanya, kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam persiapa untuk Thanksgiving, seperti tanaman hijau, pita-pita, dan tangkai bunga mawar duri yang panjang. Anehnya, hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya.

"Mau dimasukkan ke dalam kotak?" tanya penjaga toko.

Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya lelucon? Siapa yang mau tangkai mawar tanpa bunganya! Ia menunggu seseorang tertawa, tetapi wanita itu tidak tertawa.

"Iya, Tolong yah," jawab Barbara dengan tersenyum.

"Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang istimewa, aku tidak akan tersentuh dengan nilai dari Thanksgiving ini, tetapi aku bisa merasakannya di sini," ia berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi dengan pesanannya.

"Uh," gumam Sandra, "wanita itu telah pergi dengan, uh... ia telah pergi tanpa bunga!"

"Baiklah," kata penjaga toko, "Aku akan memotong bunga itu. Itulah Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai 'Karangan Bunga Berduri Thanksgiving'."

"Ayolah, kau tidak bisa menyebutkan siapa yang bersedia membayar untuk tangkai bunga seperti itu!" seru Sandra.

"Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan perasaan sama seperti yang kau alami sekarang ini," si penjaga toko menjelaskan. "Ia berpikir tidak perlu banyak berterima kasih kepada Tuhan. Ia telah kehilangan ayahnya karena penyakit kanker, bisnis keluarganya juga sedang buruk, putranya terlibat dalam masalah obat-obatan, dan ia tengah menghadapi operasi pembedahan yang sangat serius."

"Pada tahun yang sama, aku kehilangan suamiku," lanjut si penjaga toko, "dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku menghabiskan liburan sendirian. Aku tidak memiliki anak, suami, kerabat dekat, dan memiliki banyak utang."

"Jadi apa yang kau lakukan?" tanya Sandra.

"Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku," jawab penjaga toko itu dengan pelan. "Dulu aku selalu bersyukur kepada TUHAN atas segala hal yang baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan mengapa hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal yang buruk menimpaku, aku mempertanyakan berbagai pertanyaan kepada TUHAN, aku menyalahkan TUHAN, aku marah kepada TUHAN! Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan mempelajari bahwa saat-saat sulit dan menderita sangatlah penting.

Saat kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan. Aku selalu terlena dengan 'bunga' kehidupanku, tetapi ternyata duri kehidupankulah yang memperlihatkan kepadaku keindahan dari kerahiman TUHAN. Kau tahu, dalam alkitab tertulis bahwa Tuhan selalu menghibur kita ketika kita menderita, TUHAN memberikan kepada kita kekuatan, dan dari penghiburan-NYA lah kita belajar untuk menghibur orang lain."

Sandra mulai berpikir tentang perkataan temannya yang mencoba untuk memberitahukan kepadanya. "Aku rasa yang benar adalah aku tidak perlu dihibur. Aku telah kehilangan bayiku dan aku marah terhadap TUHAN."

Pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam toko. "Hey, Phil!" teriak penjaga toko kepada seorang pria botak bertubuh gemuk.

"Istriku memintaku untuk mengambil pesanan Thanksgiving istimewa... dua belas tangkai duri!" canda Phil ketika si penjaga toko menyerahkan sebuah bungkusan persiapan Thanksgiving.

"Semuanya itu adalah untuk istrimu?" tanya Sandra ragu. "Apakah kau keberatan jika aku bertanya mengapa ia menginginkan sesuatu seperti itu pada hari Thanksgiving?"

"Tidak... bahkan aku sangat senang kau bertanya," jawab Phil. "Empat tahun lalu, aku dan istriku hampir bercerai. Setelah empat puluh tahun, kami berada dalam keadaan yang kacau, tetap dengan kasih TUHAN dan bimbingan-NYA, kami berhasil mengatasi masalah demi masalah. TUHAN telah menyelamatkan pernikahan kami. Jenny di sinilah (sang penjaga toko) yang mengatakan kepadaku bahwa ia menyimpan vas bunga yang berisikan tangkai bunga mawar untuk mengingatkan kepadanya apa yang ia pelajari dari saat-saat 'berduri' dalam kehidupannya, dan itu sangatlah menjelaskanku.

Aku membawa beberapa tangkai bunga mawar ke rumah. Lalu aku dan istriku memutuskan untuk menamai setiap tangkai bunga dengan masalah yang kami hadapi, kami berusaha untuk mengerti maksud dari masalah itu, dan ternyata duri-duri yang kami alami itu benar-benar memberikan kekuatan kepada kami, kami berterima kasih kepada TUHAN atas pelajaran dari masalah itu."

Setelah Phil membayar penjaga toko itu, ia berkata kepada Sandra, "Aku sangat menyarankan agar kau mengambil yang 'istimewa' "

"Aku tidak mengetahui apakah aku bisa bersyukur atas duri kehidupanku," kata Sandra. "Semua duri itu masih sangatlah.... baru."

"Baiklah," jawab penjaga toko itu dengan hati-hati, "pengalamanku telah menunjukkan kepadaku bahwa duri dalam kehidupan kita telah membuat bunga-bunga kehidupan kita lebih berharga. Kita menyimpan anugerah TUHAN lebih baik selama kita berada dalam masalah dibandingkan dengan saat-saat lain. Ingat, karena mahkota duri yang Yesus kenakanlah sehingga kita dapat mengalami kasih-NYA. Jangan menyesali duri-duri kehidupanmu. Duri-duri kehidupanmu itulah yang membentukmu dan memberimu kekuatan."

Air mata mengalir deras di pipi Sandra. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia menghilangkan duka dan penyesalannya. "Aku akan mengambil dua belas tangkai bunga berduri, tolong yah....," ia berkata sambil terisak-isak.

"Baiklah, aku akan menyiapkan mereka dalam beberapa menit," jawab penjaga toko itu dengan ramah.

"Terima kasih. Berapa semua biayanya?"

"Tidak ada. Tidak ada, yang ada hanya suatu janji bahwa kau akan mengijinkan TUHAN untuk menyembuhkan hatimu. Biarkan aku membelikanmu barang persiapan untuk Thanksgiving tahun pertamamu." penjaga toko itu tersenyum dan menyerahkan sebuah kartu kepada Sandra. "Aku selipkan kartu ini dalam barang-barang persiapan Thanksgiving, tetapi mungkin kau ingin membacanya terlebih dahulu."

Di dalam kartu itu tertulis :

"TUHAN-ku, aku belum pernah bersyukur kepada-MU untuk semua duriku. Aku berterima kasih kepada-MU atas segala bunga kehidupan yang kuterima, tetapi belum pernah sekalipun aku berterima kasih untuk penderitaanku.

Ajarilah aku untuk menanggung beban salibku dengan tabah, ajarilah aku untuk menghargai nilai yang terkandung dari setiap penderitaan atau duri yang kuhadapi.

Tunjukkanlah kepadaku, bahwa lewat jalan yang sulit, menderita dan jalan yang penuh dengan kerikil, setiap hari aku semakin bertambah dekat dengan-MU.

Tunjukkanlah kepadaku, ya TUHAN, lewat air mataku, warna pelangi-Mu yang sangat indah."

Pujilah nama-NYA untuk segala bunga kehidupanmu, berterima kasihlah kepada-NYA untuk semua duri yang kau peroleh...!

Cinta Kasih di Hati

Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena.

Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya.Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel.

Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? "

Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".

"Bohong!! Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"

"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"

Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."

"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab.

"Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."

"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".

"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.

Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"

Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail,tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, : 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'

"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"

"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"

"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:"MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup."

Mikhail kembali ke surga.

Rumah Tua

Suatu ketika aku datang di sebuah rumah dan rumah itu terlihat tua. Cat temboknya sudah terkelupas. Warna putihnya sudah berubah menjadi kekuning-kuningan. Bila dilihat lebih dekat lagi maka akan terlihat retakan-retakan kecil di bagian-bagian tertentu. Gaya bangunannya seperti gaya bangunan jaman dulu. Sederhana dan konservatif. Rumah itu berdiri sendiri. Sebelah kanan dan kirinya hanya tanah kosong sementara rumah lainnya baru ada sekitar 1 km lagi dari rumah tua itu.

Pintunya yang terbuat dari kayu juga sudah terlihat rapuh. Dari lubang kecil yang ada di pintu terlihat beberapa rayap kecil sedang berbaris rapi menyelusuri pinggir pintu. Gagang pintunya tidak kuat. Sudah berkarat dan sedikit longgar karena ada mur yang terlepas dari tempatnya. Seharusnya sebuah papan pengumuman yang bertuliskan hati-hati membuka pintu digantungkan pada pintu itu. Supaya jangan sampai pintu itu roboh dan menimpa orang yang membukanya.

Rumah itu kecil. Dari luar yang terlihat hanya tembok, pintu, dan jendela. Rumah itu polos adanya. Tanpa halaman yang penuh dengan bunga, tanpa pagar putih yang terbuat dari kayu, dan tanpa pohon hijau yang menjulang tinggi. Terasnyapun tidak ada.

Aku berdiri di depan pintu masuk. Mulanya aku ragu apakah ini rumah yang kucari-cari. Nomor rumahnya cocok dengan nomor yang telah diberikan oleh ayahku.

"Pergilah ke sana, nomor rumahnya 23, rumahnya kecil dan tua. Sekali melihat kau pasti akan tahu bahwa itu adalah rumah yang kau cari," kata ayah kepadaku.

Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita separuh baya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya pucat, lesu, dan lelah. Baju yang dipakainya kusut dan lusuh.

"Ada apa anak muda," tanyanya kepadaku.

Aku terdiam. Aku mencoba mengintip ke dalam rumah. Tidak ada lampu yang menyala. Hanya sinar matahari yang menerangi dalam rumah itu.

Aku melihat ada seorang anak sedang tidur di atas lantai dengan beralaskan tikar. Anak itu sepertinya sedang merintih kesakitan. "Ibu..ibu...," teriak anak itu memanggil ibunya.

Mendengar dirinya dipanggil, wanita yang membukakan pintu itu segera menghampiri anaknya dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.

Aku ikut masuk ke dalam rumah. Ruangannya panas dan pengap. Aku hampir tak bisa bernafas. Aku melihat si ibu memegang dahi anaknya yang sedang terbaring. Lalu seperti orang ketakutan ia berlari mengambil kain basah dan meletakkannya di atas dahi anaknya. Aku menghampiri anak itu.

Anak itu pasti sedang sakit. Ia terlihat sangat lemah tetapi ia masih saja terus memanggil-manggil ibunya. Aku mencoba membantu si ibu untuk menenangkan anaknya. Aku pegang kepalanya mencoba menenangkan anak itu. Tetapi betapa terkejutnya aku ketika merasakan panas yang mengalir ke tanganku. Anak itu sedang panas tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit untuk di beri perawatan, kalau tidak, mungkin ia akan segera meninggal.

"Ibu,"kataku. "Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak ia bisa mati."

Si Ibu menatapku dan dari matanya aku bisa melihat tetesan-tetesan air berjatuhan membasahi wajahnya.

"Ibu tidak punya uang, dan ibu tidak tahu harus berbuat apa," kata ibu itu dengan suara menangis.

Ibu itu terus memegangi tangan anaknya yang terus memanggil-mangil dirinya.

"Ibu", kataku. "Mari kita bawa anak ibu ke rumah sakit, biar saya yang akan membayar semua biayanya." Segera aku membangunkan anak itu dan menggendongnya dengan kedua tanganku.

Ibu itu mengikuti aku dari belakang. "Anak muda, siapakah sebenarnya anda? Apakah saya mengenal anda? Dan ada keperluan apa anda datang ke mari?" tanya ibu itu.

Lalu jawabku, "Ayah saya yang menyuruh saya untuk datang ke rumah ibu. Ia berkata kalau ibu sedang memiliki masalah dan butuh pertolongan. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya yakin ibu pasti mengenal siapa ayah yang saya maksudkan, kemarin malam ibu berdoa meminta kepada-Nya supaya anak ibu bisa sembuh dari penyakitnya." Saat mendengar itu, terkejutlah si ibu.

Lalu ia mulai berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan telah mendengar doanya.

Aku Sangat Mengenalmu

Mazmur 139:1b-3
"......... Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku
dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
segala jalanku Kaumaklumi."

Anak-Ku yang Tercinta,

Kadang kala kamu merasa tidak ada orang yang mengerti dirimu - tak ada orang yang mengerti ketika kamu gembira dan tak ada yang peduli ketika kamu sedih. Kedua orang tuamu mungkin tampak terlalu sibuk. Guru-gurumu mempunyai permasalahan mereka sendiri. Bahkan kawan-kawanmu tidak tampak mengikuti hal yang sedang kamu rasakan.

Tetapi Aku mengetahuinya. Aku mengenalmu dengan baik sekali! Aku selalu mengenalmu. Aku mengerti segala hal tentang kamu - kegembiraan dan kesedihanmu. Semua pemikiran yang ingin kamu kemukakan, namun tidak dapat kamu kemukakan - Aku mendengarnya, karena aku dapat mendengar hatimu. Aku melihat, Aku mendengar, Aku peduli, Aku mengerti. Datanglah. Bicaralah kepada-Ku sekarang.

Bapa dan sahabatmu....

Bunga Untuk Mama

Pada suatu pagi, seorang pengusaha muda dengan tergesa-gesa berangkat ke kantor. Karena tidak sempat sarapan, ia singgah ke sebuah toko roti untuk membeli roti.

Saat memilih roti, ia melihat seorang anak kecil yang usianya kurang lebih 10 tahun. Anak tersebut ingin membeli bunga, tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli bunga yang dipilihnya.

Melihat ekspresi sedih dari anak kecil itu, ia pun bertanya, "Untuk siapa bunga itu nak?" Si anak kecil itu pun menjawab, "Saya mau membelikan bunga itu untuk mama, karena hari ini mama berulang tahun."

Si pengusaha tersentak, "Oh ya, aku hampir lupa; hari ini istriku juga berulang tahun. Kalau sampai aku lupa membelikan hadiah, ia pasti marah."

Si pengusaha pun segera membeli seikat bunga dan meminta agar diantar ke rumahnya. Ia juga memberi uang kepada si anak kecil, agar si anak kecil itu dapat membeli bunga untuk ulang tahun mamanya. Si anak sangat senang dan ia sangat berterima kasih pada pengusaha tersebut.

Si pengusaha segera bergegas melanjutkan perjalanannya ke kantor. Saat mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi dan terheran karena anak itu menuju ke pemakaman umum yang sering ia lewati saat ia menuju kantornya. Ia pun menghentikan mobilnya dan mengikuti anak kecil tersebut.

Ternyata anak itu menuju ke satu makam yang masih baru. Si pengusaha bertanya, "Nak, ini makam siapa?" Si anak menjawab, "Ini makam mama saya, Om. Hari ini mama berulang tahun, tetapi sayang, mama meninggal dunia dua hari yang lalu. Saya datang ke makam ini untuk membawakan mama bunga serta mengucapkan selamat ulang tahun." Dengan meneteskan air mata si anak melanjutkan, "Saya tinggal bersama paman. Papa telah pergi bersama wanita lain setahun yang lalu, pergi meninggalkan mama dan saya. Mama tidak punya siapa pun selain saya. Tidak ada yang mempedulikan mama dan tidak ada yang ingat hari ulang tahun mama."

Si pengusaha tersentak, ia teringat akan istrinya. Dengan segera ia kembali ke toko bunga dan mengantar bunganya sendiri ke rumah.

Setibanya di rumah, ia berlari mendapatkan istrinya. Ia mencium dan memeluk istrinya, serta berkata, "Sayang, selamat ulang tahun." Sambil meneteskan air mata haru ia berkata lagi, "TUHAN terima kasih, karena Engkau masih memberi kami waktu dalam suatu keluarga utuh."

Banyak di antara kita yang terlalu sibuk dengan aktivitas rutin yang membuat kita melupakan peristiwa penting yang harus dinikmati bersama dengan orang-orang yang kita kasihi: orang tua, suami, istri, anak dan saudara-saudara kita.

Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup, dan semua itu hanyalah merupakan KASIH KARUNIA TUHAN. Sebab itu jangan tunggu sampai besok dan jangan menunda untuk menunjukkan kasih kita kepada mereka, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.