Kisah Tentang Kupu-Kupu

Ketika seekor kupu-kupu membubung di atas kepala, seekor ulat bulu berkata pada ulat bulu yang lain, "Aku tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari kupu-kupu indah yang terbang di atas sana."

Namun, sebenarnya semua ulat bulu suatu saat akan mengalami masa di mana dorongan untuk terus makan dan bertumbuh akan berkurang. Sang ulat, dengan dorongan instingnya, akan membentuk kepompong yang menutupi dirinya sendiri. Kepompong itu akan semakin mengeras dan semua orang akan mengira bahwa dunia si ulat bulu sudah berakhir.

Namun di suatu pagi yang cerah, kehidupan di dalam kepompong mulai menggeliat, retakan di bagian atas kepompong mulai terbuka dan kupu-kupu yang terbentuk dengan indah pun muncul. Membutuhkan waktu berjam-jam bagi kupu-kupu untuk merenggangkan bagian tubuhnya dan mengeringkan sayapnya dan bergerak ke atas dan ke bawah dengan sangat perlahan. Kemudian, sebelum kita sadari, kupu-kupu itu membubung tinggi dan dengan mudah mengikuti arah angin, hinggap dari bunga yang satu ke bunga yang lain, seakan-akan ingin menunjukkan warna-warninya kepada bunga-bunga yang mekar.

Keajaiban kupu-kupu tidak akan pernah berhenti membuat kita kagum, karena peristiwa kupu-kupu adalah perumpamaan yang nyata tentang janji kebangkitan. Pagi-pagi benar saat Paskah tiba, murid-murid melihat kain pembungkus tubuh Yesus tergeletak di batu yang dingin. Hanya saja jasad Yesus sudah hilang, sama halnya dengan kepompong yang kosong ditinggalkan oleh kupu-kupu yang sudah terbang bebas. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati ?"

"Dia sudah bangkit seperti yang telah Dia katakan, " kata malaikat kepada para murid yang masih ragu.

Apa yang kita lakukan, sebagai orang Kristen, dalam menghadapi kematian? Jangan gentar saat menghadapinya. Yakinlah kebangkitan Kristus dari kubur adalah suatu bukti bahwa kematian bukanlah akhir suatu kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang baru bersama Tuhan dalam kekekalan.

No comments: